Kemudahan mengakses informasi lewat gawai ternyata tidak berbanding lurus dengan kemampuan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menyaring kebenaran suatu berita.
Banjir informasi yang tidak terverifikasi di media sosial berpotensi membentuk opini publik yang keliru, bahkan memicu konflik sosial jika dibiarkan tanpa edukasi yang memadai.
Sekolah dan keluarga perlu mengambil peran lebih aktif dalam menanamkan kebiasaan memverifikasi sumber informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya lebih lanjut.
Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis mengoperasikan perangkat, melainkan juga kemampuan berpikir kritis dalam menilai kredibilitas sebuah informasi.
Investasi pada literasi digital hari ini adalah investasi untuk kualitas demokrasi dan ruang publik yang lebih sehat di masa depan.
